Langsung ke konten utama

Takdir Ku dan Rafanda

Takdir Ku dan Rafanda
Oleh     : Lulu Wildatiumi

Semilir angin pagi nan sejuk seakan menusuk rusuk ini dan membuatku semakin sesak meratapi kehidupan ini. Aku mengerti kenidupan itu perjalanan panjang penuh tikungan tajam yang apabila kita tidak hati-hati melewatinya kita akan terjebak didalamnya. Tapi aku tak mengerti, mengapa kebahagian seakan tak pernah menghampiriku? Mengapa?.
Sedari kecil sampai aku beranjak dewasa, aku tak pernah merasakan akan kedamaian ataupun ketentraman pada keluarga ini. Hingga akhirnya aku pun tumbuh menjadi remaja nakal. Rasa penat dikepala, kegundahan yang selalu menghampiri sering kuandalkan pada barang-barang haram. Aku mengenal barang itu tepat diumur enam belas tahun. Aku akan merasakan kedamaian setelahnya. Tapi masalah baru kian menghampiri, karena hidupku bergantung pada barang haram tersebut.
Tapi, semua ini berubah ketika aku bertemu dengan malaiakat yang berhasil membuatku menjadi lebih baik.
*********************************************
Saat itu aku tepat berumur tujuh belas tahun. Kado yang kudapat  lain daripada yang lain.  Kado yang kudapat hanya peceraian mereka yang membuat ibuku pergi pada malam itu meninggalkan ku dan ayahku.
Setelah ibuku pergi, aku tinggal bersama ayahku dan istri barunya . Ayahku hampir tidak peduli akan kehadiranku begitupun istrinya. Aku hanya diberi uang, uang dan uang saja. Kerinduan akan pangkuan ibu menghampiriku. Ingin sekali rasanya aku berada di dekatnya, meluapkan semua kesedihan dan kegundahan yang menguasai emosiku. Aku mencoba menghubungi ibuku tapi tak bisa, dia telah berganti nomor. Seperti biasa, aku hanya bisa menenangkan emosiku dengan barang haram itu. Sebenarnya aku tak mau seperti ini, tapi nasi sudah menjadi bubur.
Selang satu tahun aku pun lulus SMA. Aku sadar aku tak bisa hidup satu rumah dengan orang-orang brengsek seperti mereka. Aku harus keluar dari kehidupan mereka.
Siang itu juga, setelah mengambil surat-surat kelulusan, aku langsung pergi dari rumah tanpa pamit. Ketika aku berjalan menuju pintu melewati dua orang brengsek itu, tiba-tiba istri ayahku berkata,”beb, anakmu mau kemana tuh?, sepertinya dia mau pergi dari rumah kita”.
Mendengar itu, langkahku pun terhenti. Ayahku pun menjawab,”Anak ku? Siapa? Laki-laki itu? Dia sekarang bukan anak ku lagi karena ibunya telah menceraikan aku. Jadi, biarkan saja dia pergi, mungkin dia sudah tidak butuh uang dari ku”. “Ya, memang. Aku sudah tidak pernah menganggapmu sebagai ayahku lagi, karena kau telah menyakiti ibuku. Dan aku juga sudah tidak butuh uang dari mu, aku sudah muak dengan semua ini, muak dengan muka brengsek kalian berdua” ucapku dengan nada tinggi seraya menunjuk-nunjuk mereka berdua. Aku pun pergi tanpa pamit ataupun salam.
Langkahku terus menelusuri keramaian kota. Dengan bermodalkan ijazah SMA yang masih hangat aku menacri pekerjaan untuk mencukupi kehidupanku. Tak terasa, waktu sudah hampir petang. Tapi, belum satu pun pekerjaan yang ku terima. Rasa kesal kembali menguasai emosiku. Seperti biasa, ku andalkan barang haram itu lagi karena aku tak kuat menahan rasa sakitnya. Aku pun berlari menuju wc umum di ujung jalan.
Setelah itu, aku berniat untuk melanjutkan mencari pekerjaan besok dan aku pun menelusuri kampung diseberang jalan untuk mencari rumah petak untuk ku singgahi. Setelah bertanya-bertanya pada beberapa warga, akhirnya aku mendapatkan tempat singgah, ya meskipun kecil yang penting bisa melepas rasa lelahku. Kemudian, beberapa sisa uang pemberian ayahku itu ku bayarkan untuk kontrak rumah satu bulan ke depan.
Pagi cerah, sang surya telah menampakkan sinarnya menyambutku penuh semangat untuk mengawali hidup baruku tanpa seorang ayah dan ibu. Aku pun kembali menyusuri jalan ibu kota demi mendapatkan pekerjaan. Mulai dari perusahaan-perusahaan, pabrik-pabrik, sampai ke restoran-restoran aku kunjungi hanya dengan bermodalkan ijazah SMA.
Terik matahari telah terasa menyengat ke dalam kulitku. Dan akhirnya aku mendapatkan pekerjaan sebagai seorang pelayan restoran. Hari itu juga aku langsung bekerja.
Hari demi hari kujalani hidup sendiri sebagai seorang pria pelayan restoran, rasa rindu pada sosok ibu sering kurasakan ditambah dengan kecanduan ku akan barang haram itu. Aku bingung bagaimana aku harus menghentikan kecanduan ku ini, ya meskipun kecanduanku bisa dibilang tidak terlalu parah. Aku hanya membutuhkannya ketika aku merasa kesal dan ingat akan masa laluku. Namun, barang ini sangat menguras kantong apalagi saat ini aku harus menafkahi diriku sendiri.
Ketika aku sedang bersandar di dinding belakang restoran ditemani kesedihan teringat akan masa lalu. Aku tak kuasa menahan emosiku untuk mengonsumsi barang haram itu. Tiba-tiba, seseorang berpakaian rapi, sopan, dan tertutup, kain merah muda yang menutup mahkotanya menggambarkan dia perempuan sholeha, berkulit putih nan cantik dengan berani mengibaskan tangannya ke arah barang haram itu hingga jatuh dari genggamanku. Aku pun terkejut dengan itu.
“Apa yang kau lakukan? Apa kau tidak memiliki iman? Kau ini masih muda sama sepertiku, masa depanmu masih panjang, masih banyak yang harus kau jalani”, ucapnya seraya memarahiku.
“Apa hak mu mengurusi hidupku? Kau siapa memangnya?”, jawabku seraya berdiri dihadapannya.
“Aku memang tidak hak akan hidupmu, aku juga bukan siapa-siapa kamu. Tapi, disini posisi kita sama-sama remaja dan aku gasalah kaalu aku hanya mengingatkan bahwa perbuatanmu barusan itu sangat tidak pantas. Maaf sebelumnya jika aku lancang, tadi aku sedang lewat sini dan aku melihatmu sedang memegang barang haram itu” , ujar gadis itu panjang lebar “aku tidak bermaksud untuk mencampuri urusan hidupmu, tapi aku hanya ingin bertanya satu hal. Apakah kamu pecandu?”
Aku pun langsung membelakanginya dan menjawab, “bukan, aku bukan seorang pecandu. Aku baru ingin mencoba barang itu, dan katanya aku akan lebih fresh aja setelah mengonsumsinya”, jawabku penuh rasa malu. “Maaf, aku tidak bermaksud untuk riya. Aku salah satu mahasiswa jurusan ilmu rehabiltasi. Jadi, aku tau ciri-ciri seorang pecandu itu seperti apa”, lanjut gadis itu.
Aku langsung berbalik arah menghadapnya dan berkata, “Apa itu benar? Apa kau bisa membantuku terlepas dari kecanduan ini? Aku sangat ingin”. Entah kenapa perempuan itu menangis setelah mendengar perkataan ku dan ia menjawab pertanyaanku, “Iya, aku juga sangat ingin membantumu, karena seribu satu remaja seusiamu yang sungguh-sungguh ingin terlepas dari kecanduannya. Mulai detik ini, aku akan menjadi sahabatmu dan membantumu untuk menjadi remaja yang baik dan berakhlak”, ucapnya seraya tersenyum padaku dan aku pun membalas senyum manisnya itu.
Dua tahun sudah perempuan itu menemani hari-hariku. Namanya Rafanda. Selama ini dia telah membuatku kembali ke jalan yang benar dan terlepas dari kecanduan. Dia mengajarkan banyak ilmu agama dan menyadarkan aku bahwa aku memiliki Allah SWT., diamana aku bisa mengadukan keluh kesah ku. Maklum, selama ini orang tuaku tidak pernah mengajariku akan hal itu, mereka hanya asik dengan kesibukan mereka masing-masing.
Seiring waktu berjalan, alhamdulillah aku terlepas dari rasa kecanduan itu. Setelah mendekatkan diriku dengan sang pencipta hidupku terasa lebih tentram begitupun dengan hati, jiwa, dan pikiranku.
Setelah lama mengenal gadis itu entah kenapa aku selalu merasa nyaman didekatnya. Ingin sekali rasanya aku menjadi teman spesialnya. Tapi, sudah satu bulan aku tidak bertemu dengannya, bahkan aku mencoba menghubunginya pun tak bisa. Aku pun mencari-cari informasi tentang dirinya, hingga akhirnya aku bertemu dengan salah satu teman kampusnya.
Rasa sakit yang mendalam kini menghampiriku. Tubuhku seolah terhempas ombak yang kuat hingga lemas tak berdaya. Terkejut aku mendengarnya. Mungkin ini yang dinamakan takdir. Tapi mengapa Allah menghendaki ini semua begitu cepat?. Aku pun langsung mendatangi tempat peristirahatan gadis itu.
Sesampainya disana, aku hanya terdiam. Air mata tak bisa lagi kubendung. Tersungkur aku dihadapannya. Kasih sayangmu telah kau sandarkan dibawah batu nisan ini. Mungkin kau adalah perantara Allah yang dipertemukan kepada ku untuk membantuku bangkit dari kehidupanku yang kelam. Kini aku hanya bisa ikhlas atas kepergianmu yang membawa duka mendalam. Terima kasih Tuhan karena kau telah menitipkan malaikat seperti dirinya. Terima kasih Rafanda karena ketulusanmu, aku bisa menjadi lebih baik.

Komentar

  1. Bagus ceritanya. Dari cerita ini bisa dapet hikmah dan bisa dijadikan motivasi ��

    BalasHapus
  2. bagus nih ceritanya memotivasi anak2 muda. jd temen2 jauh2 deh sm yg namanya narkoba karena kalau sudah kenal dan mencoba pasti akan menyesal. Semangat untuk buat cerita selanjutnya😊😊😊

    BalasHapus
  3. Itulah kehidupan, seseorang datang dan pergi tanpa se-izin kita..

    BalasHapus

Posting Komentar